You are here
Home ›Trump dan “Masa Keemasan Baru”
Mari kita mulai dengan apa yang bisa kita dapatkan tentang gambaran buruk dari pelantikan Presiden ke-47 Amerika Serikat. Dikelilingi oleh ruang khidmat yang dipenuhi oleh para triliuner, mereka oportunis seperti kekayaan mereka (yang mana mereka juga hadir saat pelantikan Biden), Trump dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa Ia telah “diselamatkan oleh Tuhan agar mengembalikan kejayaan Amerika”, sebuah slogan yang berarti Ia harus melakukan dua keajaiban. Yang pertama membawa AS kembali menjadi kekuatan ekonomi dan finansial terbaik (‘Amerika Utama’). Yang kedua akan membawa “perdamaian” untuk dunia – dengan membangun “kekuatan militer terkuat yang pernah ada di dunia”. Ini artinya dalam terma geopolitik internasional, atau relasi kekuatan inter-imperialis, mereka yang selalu mendaku mendapatkan amanat dari Tuhan hanya akan melanjutkan apa yang rezim sebelumnya telah lakukan, entah itu Republican atau Democrat, termasuk pada masa Biden. Perbedaan yang paling mencolok hanyalah karakternya yang gamblang, manuver politik yang agresif, dan kepribadiannya yang vulgar.
Bahkan sebelum melanjutkan periode keduanya sebagai Presiden ke Gedung Putih, Trump telah menyatakan ke seluruh dunia bahwa dia akan mengambil alih negara Kanada sebagai negara bagian ke-51 dari AS; dengan mengambil alih secara paksa bila perlu, Pulau Greenland (Kalaallit Nunaat) dari Denmark; dan mengklaim Kanal Panama; serta mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika. Jika kita melihat pernyataan yang sangat agresif secara terpisah dan menyederhanakan maksudnya, nama yang diambil untuk mengganti Teluk Meksiko adalah sebuah peringatan otokratik pada negara tetangganya di selatan batas negara agar memahami bahwa mereka dalam pantauan Washington dan bukan hanya tentang isu migran. Untuk Kanada, tujuannya adalah agar mempunyai sekutu yang aman, dapat dipercaya, namun juga sebagai bawahan atas perintah AS kapan saja, seolah-olah mereka adalah bagian dari Federasi Amerika Serikat. Tujuan dari klaim atas Pulau Greenland lebih mengkhawatirkan lagi. Greenland sangat kaya akan mineral dan sumber daya strategis. Minyak dan gas alamnya merupakan salah dua dari sumber daya alam langka yang paling dicari, serta emas, litium dan yang lainnya – sangat diperlukan untuk produksi mikrocip untuk sipil dan yang pasti untuk keperluan militer – sebagaimana yang telah ditemukan. Sehingga, dalam hukum internasional – apapun yang berharga bagi manajemen imperialis adalah sebuah keniscayaan – Presiden yang baru akan mempertimbangkan penggunaan kekerasan untuk mendapatkan kepemilikan atas hal tersebut (meskipun kampanye elektoral pasifisme yang dibanggakan, namun tentu saja palsu dan penuh kebohongan).
Untuk Kanal Panama, prospeknya akan menjadi lebih tragis. Karena tujuan Trump adalah sebuah hal yang sangat penting. Menurut salah satu sumber:
Kanal Panama, yang merupakan salah satu karya keinsinyuran yang impresif yang pernah dibangun, dengan panjang 81.1 kilometer dan menyambungkan Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik, menawarkan rute transit maritim yang vital bagi jutaan barang setiap tahunnya. Setiap tahun, lebih dari 14.000 kapal melewati Kanal tersebut, mengirim barang yang mewakili 6% dari pasar global jalur laut. Jalur ini termasuk bahan mentah seperti minyak, gas alam, bijih besi, dan metal, yang sangat penting untuk ekonomi global, sebagian besar diproduksi di Amerika Serikat. Bahkan 73% dari jalur komersial ini terhubung dengan korporasi besar di Amerika, membuat Kanal ini menjadi sumber daya yang fundamental untuk ekonominya. Namun, Kanal ini tidak hanya penting bagi ekonomi. Militer AS juga menggunakannya sebagai rute strategis untuk akses cepat bagi kedua Samudra, membuatnya juga sangat krusial bagi keamanan.
firstonline.info
Hal ini mengabaikan faktor penting bahwa Trump tidak melupakan bahwa Cina telah mengambil alih dua pelabuhan strategis dari Pemerintah Panama. Pelabuhan yang tidak hanya berguna untuk membantu navigasi komersial bagi kanal tersebut tetapi juga memungkinkan Beijing untuk membuat garnisun militer sebagai konfrontasi langsung dengan AS karena – jangan lupa – bahwa AS dan Cina telah menjadi dua rival imperialis dunia selama bertahun-tahun.
Oleh karenanya, dan bahkan sebelum pelantikan di Gedung Putih, Trump memperkenalkan ulang hukuman mati untuk kejahatan federal, dan membatalkan moratorium yang telah dilakukan Biden pada tahun 2021. Ia juga memerintahkan Jaksa Agung untuk meminta hukum mati “terlepas dari faktor lain”, ketika kasusnya melibatkan pembunuhan terhadap pejabat negara atau kejahatan besar “yang dilakukan oleh alien (warga asing) ilegal” di negaranya, memastikan untuk “mengambil tindakan hukum yang perlu” dan juga memastikan negara punya senjata untuk melumpuhkannya. Cara yang biadab dalam mengeliminasi pekerja asing, memperlakukan mereka hanyalah sebagai sekelompok pembunuh.
Di tengah-tengah pelantikan ini, tersurat kabar dalam menjamin dana dari negara sebesar 500 miliar dolar AS untuk proyek Stargate, sebuah proyek infrastruktur kecerdasan buatan untuk mendorong daya saing Amerika pada bidang barang dan jasa komersial, yang mempunyai tujuan untuk memodernisasi aparat militer secara umum, dan terkhusus sektor yang secara teknologi inferior dalam kompetisi imperialisnya (dengan Cina, namun tidak hanya Cina). Hal ini tentu saja bukan untuk menciptakan kondisi untuk perdamaian melainkan mempersiapkan dengan segala kemungkinan kondisi untuk berperang. Bahkan menurut komentar Trump yang ia katakan setelah menghubungi Presiden Xi Jinping pada Jum’at 17 Januari, perdamaian dengan Cina hanyalah kondisi yang sementara.
Selama kampanye elektoral, Trump mengancam sanksi tanpa pandang bulu terhadap negara-negara yang melakukan ekspor ke Amerika Serikat: tarif dengan rentang dari 10-25% untuk negara Eropa dan 60% untuk produk Cina. Setelah pemilu, ia mengancam untuk mengenakan tarif 10% tambahan pada Cina, menjustifikasinya sebagai sebuah upaya untuk mengatasi ekspor obat-obatan ke AS. Ditambah lagi, ia telah mengumumkan untuk mengenakan 25% tarif pada Meksiko dan Kanada bila mereka tidak membantu melindungi perbatasan AS. Belum lagi, ancamannya diarahkan ke negara-negara Eropa, seperti Jerman, Prancis, dan Italia yang mana tarif dikenakan mulai dari rentang minimal 10% hingga 20%. Kenaikan tarif ini dikarenakan antusiasme yang menurun dengan kepentingan politik AS di antara negara-negara tersebut. Pada akhirnya, ia (Trump) memutuskan untuk mencopot segala regulasi soal politik “hijau”, dan menggantikannya dengan izin pengeboran yang serampangan, bahkan di area yang dilindungi. Oleh karena itu, ia menandatangani keluarnya AS dari Perjanjian Paris (Paris Agreement) tentang perubahan iklim dan World Health Organization (WHO), seolah-olah siapa pula yang peduli dengan lingkungan dan kesehatan? Kepentingan ekonomi Amerika adalah yang utama meskipun akan ada kehancuran yang datang. AS punya tujuan untuk menjadi negara produsen yang terpenting dan penjual minyak dan gas di dunia, dengan kata lain, AS ingin mengkonsolidasikan supremasinya, dan jelas tak ada perjanjian apapun yang akan menghalangi tujuan ini. AS telah menjadi negara dengan limbah produksi terbesar di planet ini dan akan terus seperti ini demi mempertahankan dan dengan begitu mempertuhankan mata uang dolarnya.
Untuk membantu perusahaan yang sedang dalam keadaan sulit, Trump telah memutuskan untuk memotong pajak dari 21% ke 15% dengan tujuan untuk membuatnya makin kompetitif di pasar internasional. Trump juga sudah menetapkan, dengan bantuan Musk, untuk menurunkan anggaran birokrasi federal di angka 2 triliun dolar AS, akibatnya akan ada ribuan pekerjaan federal yang hilang. Seperti biasa, dana dialokasikan untuk mendukung sektor perbankan ketika mereka dalam kesulitan, terlebih lagi, untuk perusahaan yang terlibat dalam produksi senjata, dan di saat yang sama miliaran anggaran diambil dari urusan administrasi sehingga meningkatkan angka pengangguran dengan memotong anggaran sektor publik. Hal yang sama terjadi pada sektor pendidikan, kesehatan, dan dana pensiun yang akan diefisiensikan demi organisasi sosial yang “rasional”. Nyatanya, ini adalah sebuah gejala dari krisis ekonomi yang permanen yang memaksa sumber daya untuk modernisasi matra militer di tanah, laut dan udara (merujuk pada Musk). Belum lagi penyerangan terhadap imigran ilegal (di mana jutaan dari mereka telah diancam untuk dideportasi!), yang mana mereka bukanlah anggota kriminal melainkan pekerja miskin yang kelaparan dengan gaji yang seadanya, dan terakhir upaya melawan aborsi. Cara-cara yang seharusnya dilakukan untuk membuat AS menuju “era keemasan” yang baru nyatanya adalah sebab-akibat di bawah kontrol dari nasionalisme proteksionis yang biadab dan skema kesehatan quasi-feodal yang buruk.
Dalam soal perdamaian, di saat yang sama bernegosiasi dengan Putin, pemerintahan yang baru telah mencabut sanksi pada pemukim imperialis dan kelompok bersenjata sayap kanan Israel yang saat ini mengokupasi dan membunuh rakyat sipil Palestina di Tepi Barat. Hal ini menjadi realitas Gaza yang baru, sebagaimana, pemerintahan yang sama juga telah mensponsori penyempurnaan proyek Israel di tanah Palestina. Sirna sudah janji akan terbentuknya “Dua Bangsa dan Dua Negara”.
Agenda Trump dalam Jangka Menengah
Mengikuti langkah Biden, raksasa imperialis dunia sedang merencanakan cara yang terbaik untuk mempertahan posisinya dan bila mungkin memperluas kekuasaannya lebih jauh lagi. Salah satu tujuannya adalah agenda mengenai konflik dan perang antara Ukraina dan Rusia. Berkat pemerintahan sebelumnya, yang telah menyediakan miliaran dolar untuk pertahanan Ukraina melawan serangan Rusia, dengan tujuan melemahkan Rusia dan Eropa (yang mana terdampak dengan konsekuensi perang), Trump bisa mencoba untuk menepati janjinya dengan ia berada di Gedung Putih, ia akan mendapatkan kesepakatan damai “selesai dalam 24 jam”. Pernyataan ini kemudian dikoreksi setelah berbulan-bulan, dan kita tahu bahwa si Taipan punya masalah dengan narsisismenya. Ia telah mengumumkan bahwa AS akan mengurangi bantuan untuk Zelensky, karena biayanya terlalu mahal, dan bila sekutunya di Eropa ingin melanjutkan peperangan, mereka bisa melakukannya tanpa mengalokasikan beban finansial mereka sendiri, dengan meningkatkan belanja militer dari angka 2% ke angka 5% GDP sebagai kontribusi ke Ukraina. Dengan begitu, AS dapat melonggarkan beban ekonomi yang telah memberatkan anggaran negara, terlebih kedua pihak berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Setelah hampir tiga tahun, mereka bersiap untuk perjanjian perdamaian. Trump hanya ingin hasil yang instan, oleh sebab itu ia mengajukan perdamaian. Hipotesanya, Ukraina akan menjadi independen dari Moskow, mulai dari perbatasan negaranya, rencana “Marshall” untuk proses rekonstruksi, kepastian untuk bergabung ke dalam “organisasi Eropa” dll. Ambil atau tinggalkan. Melihat betapa mengerikannya kondisi di Kyiv dan sikap Amerika yang semakin tidak ramah, hanya sedikit harapan yang tersisa. Moskow memerlukan konfirmasi atas kontrolnya di wilayah Krimea, Donbass, dan area berbahasa Rusia lainnya, dan yang paling penting sebuah deklarasi bersama (Ukraina-Rusia) bahwa Ukraina tidak akan bergabung ke NATO selama 20 tahun ke depan. Terlepas bagaimana negosiasi berjalan, tiga rencana strategis telah membuahkan hasil bagi AS yang secara perlahan telah dimanfaatkan oleh era Biden dan sekarang dipanen di era Trump.
Hadiah pertama adalah imperialisme Rusia yang kian melemah, setelah dipaksa berperang langsung di mana awalnya Moskow memprediksi bahwa konflik Ukraina dapat diselesaikan dalam waktu bulanan. Perang ini telah membawa pada serangkaian sanksi dagang dan finansial yang secara signifikan berdampak pada ekonomi Rusia, mengisolasinya dari pasar negara-negara Barat. Dan juga, kejelasan mengenai dua Nord Streams dan pembatasan jalur gas dan minyak Rusia via Ukraina ke Eropa makin tidak tentu arahnya. Hadiah kedua adalah, sekutu utama Rusia, Cina, juga semakin dilemahkan. Sehingga AS telah berhasil mencapai tujuannya untuk melemahkan relasi krusial dalam rantai imperialis yang berlawanan: rantai yang mana, ketambahan Iran, termasuk dalam konstelasi kelompok jihadis syiah di Irak, Suriah dan Yaman serta Korea Utara, dan tentu saja Cina sendiri, yang masih menjadi musuh penting bagi Washington.
Hal ini membawa kita pada hadiah yang ketiga untuk Washington: yakni ekonomi Eropa, “budak loyal”-nya AS, yang telah ditaklukkan. Bahkan “Kampanye konflik Ukraina” adalah perang antara AS dan Rusia, yang diperjuangkan oleh rakyat Ukraina dan dibayar dengan ekonomi, komersial, dan energi oleh Eropa. Dengan pemotongan energi, dan memutus ketergantungan dengan Rusia, Jerman memasuki masa resesi sedangkan Prancis dan Italia terlihat turun angka GDPnya sebesar 50% dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah di negara-negara Eropa harus merevisi rencana pertumbuhannya yang menurun sehingga memotong tunjangan kesejahteraan seperti upah, asuransi kesehatan, dan pendidikan. Oleh karenanya, AS meskipun dalam era pemerintahan yang berbeda, telah membuat segalanya menjadi sulit bagi Rusia, dan di saat yang bersamaan “sekutu Eropa”-nya semakin dibuat tak berkutik dan tersubordinasi. Eropa sekarang terpaksa untuk membeli gas dalam harga yang mahal sekaligus mengurangi peran dari mata uang Euro, di mana mata uang Euro telah menjadi penantang supremasi dolar selama ini. Dalam melihat masa depan di Eropa, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, UE (Uni Eropa) diancam dengan kewajiban tarif impor mulai dari sebesar 10% hingga 20% dengan maksud mengintai Jerman, Italia, dan Prancis, yakni negara-negara UE yang berkontribusi besar atas defisit anggaran AS.
Timur Tengah dan Israel
Cara yang sama juga dilakukan di Timur Tengah. Perseteruan antara Israel dan Hamas, yang kemudian melebar ke Suriah, Lebanon, Irak dan Yaman Utara, yang pertama kali menghancurkan area Gaza lalu Tepi Barat dalam serangkaian peristiwa yang tragis, termasuk pembantaian genosida terhadap populasi sipil Palestina, yang seperti biasa dengan bantuan Amerika. Pertama pada era Biden dan sekarang Trump, dengan tujuan terkini adalah untuk menumpas tentakel kelompok jihadis syiah yang terkait dengan Iran (tali ketiga dari rantai imperialisme Eurasia dan musuh utama dari Imperialisme Israel di wilayah tersebut), lalu menuju ke isu yang lebih kompleks. Singkatnya, tatanan baru di Timur Tengah dimulai dengan dukungan penuh AS ke Israel, mengizinkan Netanyahu untuk meluluhlantakkan semua musuh hingga ia didakwa sebagai penjahat genosida oleh Internasional Criminal Court (ICC). Pertemuan dengan mitra kriminalnya, Netanyahu pada awal Februari, Trump mengumumkan ia berencana untuk mengusir warga Palestina dari Gaza ke Mesir dan Jordan serta mengambil-alih wilayah tersebut. Pengusiran warga Gaza adalah rencana utama Netanyahu di mana serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023 telah memberikan justifikasi untuk mengimplementasikan rencana tersebut. Dalam sebuah operasi yang kompleks ini, pemerintahan trias Biden-Trump-Netanyahu dapat mengisolasi musuh bersamanya, yaitu Iran. Hal ini kian memperlemah posisi Rusia, yang setelah jatuhnya rezim Assad di Suriah, kehilangan akses pangkalan angkatan laut di Tartus dan telah dipaksa untuk meminta sekutunya yang tidak dapat dipercaya, Haftar, untuk menyediakan pangkalan lainnya di Tobruk, wilayah Libya yang di bawah kontrol Assad, yang berlawanan dengan Turki, yang mana Turki mendukung pemerintah yang “sah” di Tripoli. Berkenaan dengan Palestina, Trump telah menunjukkan kebijakannya melanjutkan pendekatan Biden dengan mendukung pemukim di Tepi Barat dan merujuk pada wilayah aneksasi Israel sepanjang tembok batas adalah tindakan yang “sah”. Sejak awal konflik dengan Hamas, pemukim ilegal Israel di Tepi Barat naik dari 100.000 menjadi 750.000 dengan ribuan korban sipil dari pihak Palestina. Kali ini Trump dan Netanyahu yang menginisiasi nasib baru untuk rakyat Palestina, yang tidak lagi di bawah bayang-bayang “Dua Negara dan Dua Bangsa”, melainkan satu negara, satu bangsa dan wilayah reservasi bergaya Amerika Utara bagi warga Palestina yang tersisa. Singkatnya, Timur Tengah yang baru ini dilakukan dengan cara mengurangi pengaruh Iran dan cabang jihadisnya, marginalisasi peran Rusia, dan Israel tidak hanya sebagai kelompok bersenjata di bawah kontrol AS melainkan juga sebagai aktor imperialis dengan agendanya sendiri.
Inilah dunia baru yang sedang dibangun melalui perang langsung dan perang proksi. Saat ini imperialisme Amerika telah mencapai tujuan jangka pendeknya. Ia telah melemahkan Rusia di Timur Tengah dan di Eropa. Ia telah melemahkan Eropa secara internasional dalam aspek ekonomi dan energi, dan yang paling utama, ia telah menghambat terbentuknya kutub imperialis ketiga. Jika UE melanjutkan untuk menggunakan migas Rusia, bisa saja arah politiknya diposisikan ulang. Namun, memotong jalur suplai energi Rusia, dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, mereka dipaksa untuk menerima “tawaran” yang lebih mahal dari gas Amerika, segala kemungkinan ruang bagi Eropa agar punya otonomi politik sangat menyempit. Dalam kondisi ini, akan sangat mudah bagi Amerika untuk memanfaatkan kontrol atas mantan sekutunya yang lemah. Namun, ada celahnya. Tindakan berlutut di hadapan AS, yang diperburuk dengan sanksi dan ancaman bagi siapa yang menolak disubordinasi AS dan membayar tarifnya, dapat memberikan efek yang berlawanan: Eropa yang non-blok. Tentu saja, prospek yang sulit dicapai dalam kondisi saat ini, namun bukan tidak mungkin dibayangkan untuk masa depan. Meskipun begitu, bila ide ini dimulai, maka prosesnya akan perlahan, bertahap dan memerlukan waktu yang bertahun-tahun. Von Der Leyen telah mengumumkan sebuah urgensi tentang Eropa yang bersatu, mulai melihat AS bukan lagi sekutu yang dapat diandalkan. Tetapi hal ini membawa kita pada pertanyaan politik mengenai inter-imperialisme berdasarkan teori yang saat ini di luar dari analisis ini.
Di Balik Arogansi, dan Tanda-tanda Kelemahan
Kita dapat berpikir bahwa sikap pemerintahan Biden dan pernyataan arogan Trump tentang masa depan Kanada, Meksiko, Greenland, dan Kanal Panama, yang mana ditentang oleh Rusia dan nantinya Cina, adalah sebuah tanda kekuasaan. Namun mereka menyembunyikan gejala dari kekurangan yang intrinsik dari krisis struktural yang telah memengaruhi dunia kapitalis dalam setiap dekade, dimulai dengan AS. Tanpa bermaksud terlalu memperhatikan aspek krisis ekonomi yang menjangkiti AS, ada beberapa fakta lainnya yang harus dianggap penting. Utang publik Amerika telah mencapai lebih dari 36 trilyun dolar AS, dengan biaya jasa sebesar 1,2 trilyun dolar AS per tahun. Menurut sumber yang terpercaya, dalam 10 tahun ke depan 20 trilyun dolar AS akan ditambahkan pada utang tersebut, sehingga mencapai jumlah yang luar biasa yakni 56 trilyun dolar AS. (Sebagai konteks, total utang dunia sebesar 310 trilyun dolar AS, ketika 10 tahun yang lalu sebesar 210 trilyun dolar.) Utang yang dikenakan bagi para keluarga yang menyekolahkan anaknya sebesar 1,7 trilyun dolar AS. Neraca pembayaran AS terlihat cukup riskan di angka 1,2 trilyun dolar AS dan sumber lainnya memperkirakan lebih dari 50% dari perusahaan di Amerika tidak menguntungkan. Dengan kata lain, rata-rata penurunan laba menjadi perkembangan yang tak terelakkan. Perkembangan teknologi meningkatkan eksploitasi dan keuntungan yang besar namun menurunkan tingkat laba. Kapital yang diinvestasikan di produksi menjadi semakin sulit untuk memvalorisasi nilainya sendiri ketika relasi antara jumlah kapital yang diinvestasikan dan jumlah pekerja di area produksi (proletar) menuju ke titik yang berlawanan. Sehingga perubahan rasio kapital yang organik, dan hasil dari menurunnya tingkat keuntungan tak terelakkan, adalah dasar dari krisis kapital yang permanen. Rerata keuntungan kasar dari perusahaan di Amerika setelah 1940 menunjukkan penurunan yang konstan: hingga 1956 tingkat keuntungan di angka 28%, yang menurun 20% hingga 1980 dan jatuh ke angka 14% hingga 2014. Di antara akhir 90-an dan awal 2000-an (1997/2008), komposisi organik kapital meningkat 22%. Antara 1963 dan 2008, dengan tingkat keuntungan menurun di angka 21%, komposisi organiknya meningkat di angka 51%. Tren terakhir mengkonfirmasi penurunannya pada tahun 2020.
Lalu bagaimana mungkin aktor imperialis terkuat di dunia dapat bertahan di bawah utang yang begitu besar dan defisit finansial? Jawabannya mudah, supremasi dolar yang mengaliri jumlah kapital yang besar menuju AS dan karena hal ini, AS dapat mempertahankan hegemoni militernya. Sehingga alasan kelemahan ekonomi telah menjadi faktor penting dalam penggunaan kekerasan dan agresi di segala area. Apakah neraca pembayaran defisit? Tidak masalah bagi Trump, ia dapat mengenakan tarif impor: kebijakan tarif yang terkenal akan kecatatannya. Di antara banyak contoh, selain yang sudah disebutkan tarif terhadap Cina, Rusia, dan Eropa, kita dapat menyebutkan ancaman tarif 25% yang dikenakan untuk Kanada dan Meksiko. Meskipun, diumumkan pada 2 Februari 2025 bahwa ada jeda 30 hari tarif tersebut, kemungkinannya masih sangat nyata. Dalam kasus Kanada, Trump melihat mitra yang lebih taat untuk menyediakan hubungan ekonomi yang menguntungkan AS dan upaya kebijakan politik AS untuk meningkatkan belanja militer dalam memastikan pasukan tambahan untuk memproyeksikan kekuatan militer Amerika. Untuk Meksiko, ancamannya makin membesar bila pemerintahan mereka tidak berupaya untuk menyeimbangkan kerja sama dagang untuk keuntungan AS dan tidak melakukan apa-apa terhadap isu migran. Deportasi terkini dengan ribuan orang Meksiko telah menjadi budak, yang gajinya tidak dibayarkan, diumumkan di seluruh dunia, adalah pengingat akan praktik relasi kerja yang biadab. Apakah aktor imperialis berkompetisi untuk mencari bahan mentah yang strategis dan dapat dijual di pasar? Greenland memiliki banyak bahan baku mentah agar AS dapat mengambilnya, dengan kekerasan bila perlu. Apakah minyak dan gas masih menjadi hal yang esensial bagi energi? AS adalah produsen terbesar dan sedang bertarung dengan Rusia yang mana juga salah satu produsen terbesar dengan terlibat dalam perang proksi di Ukraina. Apakah aktor imperialis atau musuh Amerika lainnya (Rusia, Cina, Iran, Brazil) mencoba melawan peran dolar sebagai mata uang universal dalam perdagangan internasional, apalagi pasar bahan mentah dan teknologi? AS akan memperlakukan musuh imperialisnya seperti Gaddafi dan Saddam Hussain yang pernah mengancam hegemoni AS sebelumnya. Apakah perusahaan Amerika mengalami kesulitan berkompetisi dengan Eropa dan Cina? Sekali lagi hal yang “tidak menjadi masalah”, AS akan membiayai aktivitasnya dengan meningkatkan utang publik dan beberapa tarif impor. Investasi kapital Amerika yang produktif mengalami kesulitan membayar kembali dan kebanyakan dari porsi investasi tersebut berpindah ke pasar spekulasi yang tak menentu (pertama menjadi penyebab dan kemudian menjadi efek dari kecenderungan tingkat profit menurun). AS akan mengimplementasikan kebijakan untuk menarik kapital asing dengan mendorong investasi dalam negeri, mengurangi beban pajak, dan memastikan sebuah “pengertian” dari serikat, sesuatu yang telah secara luas dipraktikkan di pasar kerja Amerika dan bahkan lebih buruk. Pada suatu saat, hal ini adalah kebijakan ala negara miskin atau negara Dunia Ketiga yang mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan menarik kapital asing agar menyokong ekonomi negaranya, bahkan dengan harga yang harus dibayar oleh kelas proletar dengan terpaksa hidup dengan gaji yang rendah dan mengabaikan tuntutan serikat agar upah rendah untuk memenuhi kebutuhan investasi kapital. Jika Trump, dengan arogansinya yang tak bertepi, harus sampai membuat kebijakan tersebut, dapat diketahui bahwa sistem ekonomi Amerika sedang dalam masalah yang dibanjiri dengan hutang dan defisit, hingga menunjukkan hanya kekuatan militer (salah satu faktor yang produktif dan berfungsi secara prima) dan supremasi dolar yang mempertahankan kuasanya. Kesimpulannya: mampuslah bagi mereka yang berkompetisi secara komersial dengan AS, mampuslah mereka yang melemahkan peran dolar, mampuslah mereka yang mencoba mempertanyakan dominasi imperialisnya, jikalau tidak penggunaan kekerasan akan secara otomatis dipantik.
Dalam konteks krisis permanen kapitalis, imperialisme Amerika harus menghadapi relasinya dengan Cina dengan efektif. Cina adalah kekuatan imperialis yang tujuannya tidak hanya menjadi negara yang memimpin dalam hal produksi dan dagang (sebagai contoh Jalur Sutra), namun juga berkompetisi dengan AS dalam bidang teknologi tinggi (robotisasi, kecerdasan buatan, -- sebagai contoh DeepSeek – jelajah ruang angkasa, senjata militer tercanggih, dll). Ditambah lagi, tentu saja, Cina sedang mencoba untuk berkompetisi dengan dolar dalam pasar finansial dengan mata uangnya sendiri, Renminbi, yang menggunakan transaksi dalam minyak dan gas serta bahan mentah strategis. Jika Renminbi menjadi tantangan yang serius bagi dolar, dan hal itu akan melemahkan salah satu dari dua pilar imperialisme Amerika. Hal ini adalah sesuatu yang tidak akan dibiarkan Washington, bahkan mereka rela membayar harga dengan konflik langsung yang akan membawa dunia ke lembah katastropik yang tak terbayangkan.
Konsekuensi atas hal ini, dua faktor lain harus dipertimbangkan. Pertama ada isu dominasi rute dagang, pelabuhan strategis, dan selat yang menyediakan akses atau tidak, tergantung posisinya seperti, selat Hormuz, Bab-el-Mandeb, Pelabuhan Djibouti dan Kanal Panama. Yang kedua, ada isu yang panjang tentang Laut Cina Selatan dan Timur, kontrol atas pulau-pulau di Indo-Pasifik, dan masalah konflik dengan Taiwan. Tidak ada satu pun pemerintahan Amerika yang meremehkan Cina ataupun dengan masalah klaim imperialistik lainnya, jelas juga bagi Trump. Era pemerintahan Biden telah bergerak dengan determinasi. Setidaknya selama enam atau tujuh tahun, angkatan laut Amerika telah bergerak di sekitar pulau-pulau yang diperebutkan dan terbaru Korea Selatan sedang terlibat. Saat persiapan pelantikan Trump di Gedung Putih, Cina melakukan patroli laut yang masif di area Laut Cina Selatan yang diperebutkan, dengan peringatan yang bukanlah tanpa tujuan, komando militer Cina mengatakan angkatan laut dan udaranya telah melakukan “operasi patroli yang diperlukan”. Sebelumnya, di pemerintahan Biden, sebagai bagian dari warisan ke Trump, AS telah mengirim 571 juta dolar AS suplai peralatan teknologi canggih dan keperluan militer untuk melatih militer Taiwan, dengan sebanyak 295 juta dolar AS dialokasikan secara independen oleh Departemen Pertahanan. Ditambah lagi, rencana anggaran Pentagon tahun 2025 (yang naik ke angka 895 miliar dolar AS) menyediakan dana tambahan yang akan digunakan untuk mengirim suplai militer tambahan, bila dibutuhkan, untuk bersekutu dengan Taiwan secara berkelanjutan, serupa dengan bantuan militer yang digunakan untuk Ukraina. Namun Cina masih belum dapat dikalahkan, dengan mengirim 5 pesawat tempur dan 6 kapal perang ke selat Taiwan (Awal Desember 2024). Namun, Kementerian Pertahanan Taiwan telah berbicara, di bulan yang bersamaan, bahwa Beijing, kekeuh mengklaim yurisdiksinya atas Taiwan, dan telah mengirimkan 400 pesawat tempur dan 276 kapal ke selatnya. Ketegangan makin memanas dan risiko sebuah insiden dapat terjadi kapan saja, dengan konsekuensi yang fatal bagi manusia dan lingkungan yang sudah semakin memburuk.
Untuk menyimpulkan artikel ini, kami merujuk artikel kami dari tahun 2024 yang menaikkan isu kedaruratan akan menanggapi potensi peperangan dan persiapan atas apa yang telah diakibatkan oleh krisis permanen dalam dunia kapitalisme:
Dihadapkan dengan kebiadaban yang secara saintifik sangat destruktif dibanding masa lalu yang mana hanya satu kekuatan bisa melawannya. Kekuatan ini adalah massa luar biasa besar dari kelas proletar internasional, yang dihisap dan diproduksi oleh krisis kapitalisme. Budak upah yang memproduksi kekayaan masyarakat dari setiap bangsa dengan tenaga kerja mereka yang di satu sisi remah-remahnya dengan susah payah mereka kumpulkan. Di sisi lain, mereka tidak punya kerjaan, bekerja serabutan, dan entah bagaimana bertahan di pinggir masyarakat yang tidak adil ini yang dibuat untuk kebutuhan dan keinginan para borjuis. Kekuatan ini, yang di waktu tertentu dieksploitasi di masa damai dan digunakan sebagai serdadu di masa perang, dapat menjadi antidot yang ampuh melawan kebiadaban imperialisme, dengan syarat kekuatan ini menyatu ke sebuah kelas yang melawan, dan perangnya adalah melawan kapitalisme, yang kontradiksinya tak ada obat, krisis ekonominya dan kehancuran perangnya. Namun untuk melakukan hal ini, kekuatan dengan potensi yang besar ini harus keluar dari dominasi pola pikir kelas penguasa. Perang disebabkan oleh krisis kapitalisme, dikelola oleh para borjuas untuk mempertahan kepentingan ekonominya, dan kontradiksi utama dari privilese politik dan sosialnya, namun diperjuangkan oleh kelas proletar yang didominasi oleh ideologi kelas penguasa. Ideologi-ideologi yang mulai dari mempertahankan atau mengekspor demokrasi, hingga kepentingan nasional agar dipertahankan, atau bahkan prinsip keagamaan yang universal yang harus dipaksa meskipun harga yang harus dibayar adalah dengan kekerasan. Belum lagi, ideologi yang rasis dan homofobik, yang baru ataupun lama, yang berteori bahwa perang sebagai instrumen “purifikasi” melawan invasi dari “kebiadaban” yang baru. Beban ideologis dari para borjuasi agar kelas proletar mengidentifikasi kepentingannya dengan kepentingan mereka para borjuasi yang tidak ada batasnya, apalagi dengan adanya peperangan. Dengan segala alasan ini, mengedukasi kelas proletar dengan tatanan dunia menjadi hal yang esensial sebagai acuan politik internasional, dengan taktik dan strateginya sendiri, mengingat esensi imperialisme dan dampaknya yang mematikan bersifat internasional. Oleh karena itu, kita memerlukan partai internasional yang membawa segala energi kita bersama dalam satu tujuan: perjuangan melawan kapitalisme dalam segala manifestasi ekonomi dan sosialnya, dimulai dari negara borjuis masing-masing, bagaimanapun perannya dalam skenario perang imperialis, walau hanya sebagai pengamat atau partisipan. Kesimpulannya, kepentingan kelas proletar tidak bisa diperjuangkan dengan memberikan nasib tenaga kerja di tangan para borjuis, entah jihadis ataupun sekuler. Kita tidak dapat berkontribusi pada lahirnya internasionalisme revolusioner dengan berpihak pada salah satu pihak dalam perang imperialis. Anda tidak berjuang dengan bergabung dengannya, apapun justifikasinya. Di sisi lain tugas pertama dari organisasi politik internasional adalah mengurai problematika kelas pekerja dari ribuan tentakel dari para borjuis nasional dan imperialis internasional. Kondisi yang memungkin untuk melawan segala nasionalisme dan segala peperangan adalah alternatif revolusioner atas kapitalisme, melawan segala politik kontra-revolusioner dan preservasi dari “status-quo”.
leftcom.org
Tiada perang selain perang kelas, katakan tidak pada perang imperialis, katakan ya untuk perjuangan kelas!
Internationalist Communist Tendency28 Januari 2025
ICT sections
Basics
- Bourgeois revolution
- Competition and monopoly
- Core and peripheral countries
- Crisis
- Decadence
- Democracy and dictatorship
- Exploitation and accumulation
- Factory and territory groups
- Financialization
- Globalization
- Historical materialism
- Imperialism
- Our Intervention
- Party and class
- Proletarian revolution
- Seigniorage
- Social classes
- Socialism and communism
- State
- State capitalism
- War economics
Facts
- Activities
- Arms
- Automotive industry
- Books, art and culture
- Commerce
- Communications
- Conflicts
- Contracts and wages
- Corporate trends
- Criminal activities
- Disasters
- Discriminations
- Discussions
- Drugs and dependencies
- Economic policies
- Education and youth
- Elections and polls
- Energy, oil and fuels
- Environment and resources
- Financial market
- Food
- Health and social assistance
- Housing
- Information and media
- International relations
- Law
- Migrations
- Pensions and benefits
- Philosophy and religion
- Repression and control
- Science and technics
- Social unrest
- Terrorist outrages
- Transports
- Unemployment and precarity
- Workers' conditions and struggles
History
- 01. Prehistory
- 02. Ancient History
- 03. Middle Ages
- 04. Modern History
- 1800: Industrial Revolution
- 1900s
- 1910s
- 1911-12: Turko-Italian War for Libya
- 1912: Intransigent Revolutionary Fraction of the PSI
- 1912: Republic of China
- 1913: Fordism (assembly line)
- 1914-18: World War I
- 1917: Russian Revolution
- 1918: Abstentionist Communist Fraction of the PSI
- 1918: German Revolution
- 1919-20: Biennio Rosso in Italy
- 1919-43: Third International
- 1919: Hungarian Revolution
- 1930s
- 1931: Japan occupies Manchuria
- 1933-43: New Deal
- 1933-45: Nazism
- 1934: Long March of Chinese communists
- 1934: Miners' uprising in Asturias
- 1934: Workers' uprising in "Red Vienna"
- 1935-36: Italian Army Invades Ethiopia
- 1936-38: Great Purge
- 1936-39: Spanish Civil War
- 1937: International Bureau of Fractions of the Communist Left
- 1938: Fourth International
- 1940s
- 1960s
- 1980s
- 1979-89: Soviet war in Afghanistan
- 1980-88: Iran-Iraq War
- 1982: First Lebanon War
- 1982: Sabra and Chatila
- 1986: Chernobyl disaster
- 1987-93: First Intifada
- 1989: Fall of the Berlin Wall
- 1979-90: Thatcher Government
- 1980: Strikes in Poland
- 1982: Falklands War
- 1983: Foundation of IBRP
- 1984-85: UK Miners' Strike
- 1987: Perestroika
- 1989: Tiananmen Square Protests
- 1990s
- 1991: Breakup of Yugoslavia
- 1991: Dissolution of Soviet Union
- 1991: First Gulf War
- 1992-95: UN intervention in Somalia
- 1994-96: First Chechen War
- 1994: Genocide in Rwanda
- 1999-2000: Second Chechen War
- 1999: Introduction of euro
- 1999: Kosovo War
- 1999: WTO conference in Seattle
- 1995: NATO Bombing in Bosnia
- 2000s
- 2000: Second intifada
- 2001: September 11 attacks
- 2001: Piqueteros Movement in Argentina
- 2001: War in Afghanistan
- 2001: G8 Summit in Genoa
- 2003: Second Gulf War
- 2004: Asian Tsunami
- 2004: Madrid train bombings
- 2005: Banlieue riots in France
- 2005: Hurricane Katrina
- 2005: London bombings
- 2006: Comuna de Oaxaca
- 2006: Second Lebanon War
- 2007: Subprime Crisis
- 2008: Onda movement in Italy
- 2008: War in Georgia
- 2008: Riots in Greece
- 2008: Pomigliano Struggle
- 2008: Global Crisis
- 2008: Automotive Crisis
- 2009: Post-election crisis in Iran
- 2009: Israel-Gaza conflict
- 2006: Anti-CPE Movement in France
- 2020s
- 1920s
- 1921-28: New Economic Policy
- 1921: Communist Party of Italy
- 1921: Kronstadt Rebellion
- 1922-45: Fascism
- 1922-52: Stalin is General Secretary of PCUS
- 1925-27: Canton and Shanghai revolt
- 1925: Comitato d'Intesa
- 1926: General strike in Britain
- 1926: Lyons Congress of PCd’I
- 1927: Vienna revolt
- 1928: First five-year plan
- 1928: Left Fraction of the PCd'I
- 1929: Great Depression
- 1950s
- 1970s
- 1969-80: Anni di piombo in Italy
- 1971: End of the Bretton Woods System
- 1971: Microprocessor
- 1973: Pinochet's military junta in Chile
- 1975: Toyotism (just-in-time)
- 1977-81: International Conferences Convoked by PCInt
- 1977: '77 movement
- 1978: Economic Reforms in China
- 1978: Islamic Revolution in Iran
- 1978: South Lebanon conflict
- 2010s
- 2010: Greek debt crisis
- 2011: War in Libya
- 2011: Indignados and Occupy movements
- 2011: Sovereign debt crisis
- 2011: Tsunami and Nuclear Disaster in Japan
- 2011: Uprising in Maghreb
- 2014: Euromaidan
- 2016: Brexit Referendum
- 2017: Catalan Referendum
- 2019: Maquiladoras Struggle
- 2010: Student Protests in UK and Italy
- 2011: War in Syria
- 2013: Black Lives Matter Movement
- 2014: Military Intervention Against ISIS
- 2015: Refugee Crisis
- 2018: Haft Tappeh Struggle
- 2018: Climate Movement
People
- Amadeo Bordiga
- Anton Pannekoek
- Antonio Gramsci
- Arrigo Cervetto
- Bruno Fortichiari
- Bruno Maffi
- Celso Beltrami
- Davide Casartelli
- Errico Malatesta
- Fabio Damen
- Fausto Atti
- Franco Migliaccio
- Franz Mehring
- Friedrich Engels
- Giorgio Paolucci
- Guido Torricelli
- Heinz Langerhans
- Helmut Wagner
- Henryk Grossmann
- Karl Korsch
- Karl Liebknecht
- Karl Marx
- Leon Trotsky
- Lorenzo Procopio
- Mario Acquaviva
- Mauro jr. Stefanini
- Michail Bakunin
- Onorato Damen
- Ottorino Perrone (Vercesi)
- Paul Mattick
- Rosa Luxemburg
- Vladimir Lenin
Politics
- Anarchism
- Anti-Americanism
- Anti-Globalization Movement
- Antifascism and United Front
- Antiracism
- Armed Struggle
- Autonomism and Workerism
- Base Unionism
- Bordigism
- Communist Left Inspired
- Cooperativism and Autogestion
- DeLeonism
- Environmentalism
- Fascism
- Feminism
- German-Dutch Communist Left
- Gramscism
- ICC and French Communist Left
- Islamism
- Italian Communist Left
- Leninism
- Liberism
- Luxemburgism
- Maoism
- Marxism
- National Liberation Movements
- Nationalism
- No War But The Class War
- PCInt-ICT
- Pacifism
- Parliamentary Center-Right
- Parliamentary Left and Reformism
- Peasant movement
- Revolutionary Unionism
- Russian Communist Left
- Situationism
- Stalinism
- Statism and Keynesism
- Student Movement
- Titoism
- Trotskyism
- Unionism
Regions
User login
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.